Catatan Perjalanan: Gunung Kidul Yogyakarta (Goa Pindul dan Pantai Indrayani)

Akhirnya saya menuliskan pengalaman dua tahun lalu saya, pada Januari 2014 #supertelat.

Gunung Kidul letaknya ada di Provinsi DI Yogyakarta. Siapa sangka Jogja memiliki potensi wisata sebesar ini? Saya yang setiap tahun selalu menyempatkan diri pulang kampung ke sana saja baru tahu ketika pergi bersama teman-teman. Bagi kalian yang mengunjungi Jogja untuk kesekian kalinya, saran saya kalian harus mencoba mengunjungi tempat ini. Goa Pindul menawarkan pengalaman yang berbeda dari Malioboro, Kraton, atau Candi Prambanan.

Jadi, mari kita mulai catatan perjalanan saya mengunjungi Goa Pindul bareng April, Rifky, Wildan, Novi, dan Dwi.

Melihat ramalan cuaca yang cerah, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi Goa Pindul. Kami berangkat dengan mobil, namun sepertinya banyak bis umum yang dapat mengantarkan setidaknya sampai ke Gunung Kidul. Sejujurnya, saya orangnya tidak baik dalam orientasi arah dan berhubung tidak satupun dari kami yang pernah mengunjungi Goa Pindul sebelumnya, jadilah kami mengandalkan GPS. Saran saya, setiap sebelum memutuskan untuk belok di persimpangan mengikuti arah yang ditunjukkan GPS, ada baiknya jika bertanya terhadap penduduk setempat. Siapa tahu ada jalan yang lebih baik dari yang ditunjukkan GPS, walau kalau mengikuti GPS pasti akan sampai juga.

Dari Kota Yogyakarta, butuh sekitar 2.5 jam untuk sampai ke tujuan. Kami sampai di pos sekitar pukul 11.00 dan langsung mendaftarkan diri untuk menyusuri Goa. Sebenarnya, wisata yang ditawarkan tidak hanya menyusuri Goa, tapi juga ada Arung Jeram dan Offroad. Sayangnya, kebanyakan dari kami (termasuk saya) sungkan untuk mengeluarkan uang untuk mencoba semuanya. Biaya yang dibayar saat itu sebesar 45k sudah termasuk pemandu, peralatan, fasilitas ruang ganti dan kamar mandi, teh hangat, dan tentu saja, asuransi. Ada penyewaan loker juga jika berminat.

1504028_10201409905666426_1423532004_n

Ambil ban dulu sebelum masuk Goa

1511730_10201409913186614_1033668580_n

Di mulut Goa Pindul

Kami lalu mengenakan ban, pelampung, dan sandal yang disediakan. Kami juga menggunakan layanan fotografer dari pengelola supaya tidak repot dengan bayaran 200k. Pada awal kami memasuki Goa, kaki saya masih dapat berpijak ke dasar sungai, namun semakin ke dalam, tidak terasa kaki saya sudah ngambang. Matahari lama-lama menghilang. Tidak kelihatan apa-apa sama sekali kecuali posisi yang diarahkan senter. Lihat ke belakang hitam, ke bawah hitam, ke atas hitam. Kami harus menggenggam ban teman di depan kita supaya tetap dalam trek yang benar dan tidak terpisah. Terima kasih kepada pemandu saya yang mengembalikan saya ke rombongan teman-teman karena saya beberapa kali terdampar ke rombongan lain saking lambatnya laju saya. Saya orangnya penakut, sepanjang perjalanan menyusuri Goa, saya was-was, terus berdoa dalam hati dan mengusahakan berpikir positif (iya, sampai segitunya – maafkan kecupuan saya ini).

1604826_10201409917186714_761477323_n.jpg

Stalaktit di langit Goa

Kemudian, akhirnya kami melihat matahari lagi. Senangnya! Betapa bersyukurnya saya ada matahari yang menyinari kehidupan ini (selebay itu). Lalu kami berenang (kalau saya sih renang-renangan) sampai puas. Hal lain yang saya sukai adalah pemandu kami sangat meng-encourage untuk lompat dari tebing. Katanya, “Coba saja mumpung di sini!” Akhirnya, saya ikut-ikutan teman saya dan memang seru sekali! Berpetualang alam memang menimbulkan rasa bebas, dan berani, meski rasanya seperti sedikit mempertaruhkan hidup……. Rasanya saya perlu berwisata petualangan alam lagi supaya tidak cupu terus. Saya ingat saya kehilangan sandal dan sedikit kesakitan karena harus bertelanjang kaki kembali ke pos, tapi apalah arti sedikit luka jika dibandingkan pengalaman yang saya dapat.

1526586_10201409932267091_1967254585_n.jpg

Semua basah abis nyebur

Kami sangat-sangat-sangat lapar, tapi sayangnya di dekat sana kami tidak menemukan tempat makan yang menarik perhatian kami. Sebenarnya, mi instan sangat menarik, tapi layaknya orang Indonesia, kami butuh nasi dan memutuskan untuk mencari tempat makan sembari melanjutkan perjalanan ke Pantai Indrayani.

1524764_10201391919336779_758533580_n

Pantai dilihat dari atas – serasa pantai milik pribadi

Pantai Indrayani masih terletak di area Gunung Kidul. Tidak ada biaya masuk, hanya parkir dan retribusi seikhlasnya. Di sana, kami minum es kelapa, main pasir, dan berfoto-foto. Pantai Indrayani sebenarnya hanya merupakan salah satu dari sekian pantai yang berjajar sepanjang perjalanan. Letaknya di paling ujung. Namun, sepertinya Pantai Indrayani yang paling juara pemandangannya, dan kebersihannya.

1604974_10201391929297028_327364469_n

Sunset di Pantai

Di Gunung Kidul, masih banyak tempat wisata lainnya. Sayang, belum sempat mengunjungi semuanya. Mungkin, lain kali. Hidup Jogja!

P. S.: Visit http://goapindul.com/ for updated information

P. P. S: Fotonya dari kamera Wildan (twitter.com/wtrf) semua hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s