Sungguh, Tuhanku Maha Pemberi Tempat yang Baik

Advertisements

Menulis skripsi itu ternyata sulit ya…….

tapi, bersama kesulitan ada kemudahan, kan?

Belajar ber-esensi

This will be part of my 2018 resolution – which is: ayu harus hidup esensial

Sebenarnya ini terinspirasi dari sebuah retweet dari seorang teman lama yang sangat menginspirasi (sebut saja regia), yang kemudian kepikiran ketika mau makan tapi gaada makanan.

This time, I will talk about: Makan

“Makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”

Baru sadar kalau ayu suka banget makan, suka – sampai kalau mau makan ya ayu makan, belum tentu karena lapar // butuh.

Sampai kemudian sadar kalau melakukan sesuatu banyak karena maunya, bukan cuma karena yang seharusnya: karena butuh.

Kalau soal materi, esensialisme mungkin maksudnya menggunakan harta demi keteguhan jiwa, kebersihan diri, di jalan-Nya, untuk mencari ridha-Nya – yang kesemua maknanya masih harus banyak kupelajari

There are things we just can not and do not need to know,
as we never know
how many more years we would live
or, simply
.
.
what’s in the heart of human.

Only The Almighty knows everything,
and for what will be, will be.

Adulting: about role

Role (n) — rol  \ ˈrōl \
– a character assigned or assumed / a function or part performed especially in a particular operation or process

(capek pake bahasa inggris)

jadi ya intinya ayu sedikit sadar kalau
setiap orang punya perannya masing-masing,
dan ayu harus makin yakin kalau
waktu yang dikasih bakal cukup-cukup aja buat mainin perannya – seutuhnya;
terus ayu juga tidak bisa tidak berterima kasih karena di hidup  ini
ayu bertemu orang-orang yang memainkan peran mereka dengan sangat baik,
sampai pada akhirnya, apapun perannya, akhir dari hidup setiap orang di dunia ini tetap sama:

mati.

mungkin, yang bisa kita sama-sama doakan:

semoga tiap-tiap kita bisa menyelesaikan peran kita dengan baik dan bisa pulang dengan baik pula kepada-Nya 🙂