Tentang Kesedihan dan Ketidaksukaan

Orang yang bisa mengungkapkan kesedihan dan ketidaksukaan mereka itu hebat. Banget.

Apalagi kalau cara mengungkapkannya enak, bisa diterima sama penyimaknya.

Orang kayak gitu menurutku berhak dikasi empat jempol since dia bisa jujur sama dirinya, jujur juga sama orang di sekitarnya. Tapi bukan berarti kalau dia gabisa mengungkapkan sedih dan tidaksukanya, dia jadi orang yang penuh kepura-puraan.

Ya, tiap orang beda-beda.

Ada loh orang yang mau bilang sedih aja mikir satu juta tahun – mikir kalo sedihnya itu gapenting, kayak: kalo aku sedih emang dia bakal peduli – yang kayak gini biasanya tipikal orang yang insecure. Ada juga orang yang kalau mau bilang tidak suka tiba-tiba gajadi karena takut – udah gitu takutnya udah kayak ngelebihin takut kalo ketemu dosen penguji – yang kayak gini biasanya tipikal orang yang people pleaser.

Aku sih mungkin termasuk tuh dua-duanya.

Kalau dipikir-pikir lebih jauh, pasti ada alasan kenapa ada//banyak orang yang ngga bisa seterbuka itu. Setuju atau engga, seringkali, kita dipengaruhin sama lingkungan sekitar. Nah, coba sekarang inget-inget dulu pas kecil sekitaran kita kayak gimana.. Kalau aku sendiri, katanya dulu kalau rewel//nangis sedikit langsung dimarahin sama yang jagain. Kalau marahan sedikit sama Kakak, Mama jadi langsung ngambek sama kami berdua.

Tapi mungkin yang hampir sama kayak kebanyakan orang lain, pas kecil kita keseringan dipacu untuk merasa rasa-rasa yang kata orang-orang positif AJA, e. g. bahagia, semangat, dkk. Padahal, manusia punya potensi untuk merasa berbagai macam rasa, termasuk sedih, kecewa, marah. Terus karena terbuai sama kata-kata orang, jadi ngerasa kalau manusia cuma berhak punya rasa yang positif (ini purely teori aku, sih..).

Padahal, pada dasarnya semua manusia sama, sama-sama punya beragam rasa, walaupun cara ngerasainnya bisa beda-beda. Jadi ya sebenernya ngga ada salahnya kalau kita mau bilang tentang kesedihan dan ketidaksukaan kita. Asal caranya baik.

Terus definisi baiknya orang beda-beda. Aku masih harus terus belajar kalau soal ini.

Mungkin salah satu cara yang bisa dipakai buat tau gimana cara ngungkapin apa yang kita rasa dengan impersonate (bahasanya anak ask.fm nih). Sesederhana sebelum bertindak, kita coba mikir dulu kalau kita jadi target tindakan kita, kita bakal ngerasa gimana. Action creates reaction.

Tapi ya kita juga ngga bisa tau pikiran orang sih, tapi seengganya udah coba berpikir. Kalau ternyata yang terjadi gasesuai sama ekspektasi yaudah, namanya juga manusia, cuma bisa usaha.

Iya, yang penting udah usaha.

Emangnya dia bisa tau kita berekspektasi apa dari dia? Kan engga. Jangan malah menyesal terus jadi gamau ngungkapin perasaan, terus malah ke depannya kalau ada apa-apa jadi dipendam. Nanti bisa-bisa kayak gunung berapi yang akhirnya meletus.

Jadi menurut aku sih jangan takut untuk mengungkapkan semua rasa – asal caranya baik, asal kita udah berusaha untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Karna ujung-ujungnya, hidup ya untuk saling memahami. Tapi ya untuk paham sedikit banyak butuh usaha, karna kita kan gabisa tahu pikiran orang lain gitu aja, kita kan bukan Tuhan yang Maha Mengetahui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s