If I am asked to say some honest words long after what I’ve been through in some past months, maybe it would be

i can’t tell how much i feel grateful to know u that i wish i could meet u earlier in my lyf

 

(diperuntukkan untuk manusia-manusia yang diberi jalan oleh-Nya untuk membawa kebaikan)

 

Anw, it’s w-1 deadline of my thesis, please pray for me & my fellow friends :”

Mohon maaf untuk semua kesalahan, dan terima kasih untuk semua-mua-muanya :”

Advertisements

Forgiveness

[this one to mark the draft of post I should write right after previous one, but i haven’t had the urge to create one]

Thankfulness

He he

I want to post it right after the ‘Acceptance’. Reason? Not because they are similar, (anw, they are quite different), it’s because my brain told myself: acceptance should be followed by thankfulness.

Plus I heard the same thing in ceramah from ustadz in Tarhib Ramadhan.

In my perspective, thankfulness is what makes us get through life as human who belongs to The Creator.

Yang Maha Pemberi sudah memberi kita kesempatan untuk bernapas bebas, bisa membuat keputusan mau melakukan apa hari ini, bisa melaksanakan keputusan yang dibuat, dannnn banyak hal lain yang kalau disebutkan sampai akhir dunia juga ngga ada habisnya..

Kita ciptaan-Nya menerima pemberian dari-Nya.

Tapi setelah itu, pemberian-Nya yang luar biasa banyak tidak terhitung kita sikapi bagaimana?

Bagaimana kita bersyukur bisa dibilang miriplah sama bagaimana kita menyikapi pemberian-Nya setelah kita terima.

So, thankfulness is…. a form of reaction,

dan pertanyaanya: Bagaimana kita dalam bersyukur saat ini?

Kemudian, timbul pertanyaan lain: Apa sudah benar cara kita dalam bersyukur?

Pertanyaan yang lain lagi: Bagaimana cara yang benar?

Pada akhirnya: Mau tidak mensyukuri dengan lebih baik?

 

Mau kan, Yu? :”)