Thankfulness

He he

I want to post it right after the ‘Acceptance’. Reason? Not because they are similar, (anw, they are quite different), it’s because my brain told myself: acceptance should be followed by thankfulness.

Plus I heard the same thing in ceramah from ustadz in Tarhib Ramadhan.

In my perspective, thankfulness is what makes us grow.

Bersyukur masih diberi kesempatan untuk bernapas bebas, bisa membuat keputusan mau melakukan apa hari ini, bisa melaksanakan keputusan yang dibuat, dannnn banyak hal lain yang kalau disebutkan sampai akhir dunia juga ngga ada habisnya..

Semua itu adalah satu hal.

Hal lainnya yang jadi pertanyaan: bagaimana cara kita mensyukurinya?

Lalu selanjutnya: Apa sudah benar cara kita dalam bersyukur?

Pertanyaan yang lain lagi: Bagaimana cara yang benar?

Pada akhirnya: Mau tidak mensyukuri dengan lebih baik?

 

Mau kan, Yu? :”)

 

 

 

Advertisements

Acceptance

Beberapa hari ini gue belajar banyak tentang kata yang jadi judul ini.

Sejatinya, kita manusia akhirnya cuma bisa nerima, – ridha, istilahnya kalau pakai bahasa lain.

Beberapa hari belakangan, disadarkan tentang ke-menerima-an itu. Termasuk menerima diri sendiri dengan semua keunikannya. Menerima kalau sudah waktunya untuk jadi dewasa, menerima kalau bukan lagi waktunya untuk mengedepankan emosi. Menerima kalau berpikir dengan (lebih) bijaksana sebelum bertindak itu perlu. Menerima kalau kita butuh berusaha untuk bisa dimengerti, menerima kalau bicara dengan jelas dan utuh itu perlu, karna ngga ada yang bisa baca pikiran orang lain..

Menerima kalau hidup ini akan berjalan baik-baik saja selama bisa berdamai dengan diri sendiri…

.

.

.

Menerima kalau deadline skripsi yang tinggal 50-an hari lagi tidak bisa dianggap main-main.

Melatih Sabar

Catatan untuk diri sendiri kalau puasa saja tidak cukup untuk melatih sabar.

Ada beberapa hal yang aku rasa bisa membantuku melatih kesabaran:

  • makan dan minum sambil duduk, pada waktunya
  • tidak menuruti BM (kebanyak mauan – kalau bahasa now)
  • think 1000x before deciding to buy something
  • don’t get too attempted to open new chats

Gitu dulu kayaknya, namanya juga baru belajar

P. S. : di atas sabar, masih ada ridha dan taqwa yang jauh22222 lebih tidak mudah

Tentang Kesedihan dan Ketidaksukaan

Orang yang bisa mengungkapkan kesedihan dan ketidaksukaan mereka itu hebat. Banget.

Apalagi kalau cara mengungkapkannya enak, bisa diterima sama penyimaknya.

Orang kayak gitu menurutku berhak dikasi empat jempol since dia bisa jujur sama dirinya, jujur juga sama orang di sekitarnya. Tapi bukan berarti kalau dia gabisa mengungkapkan sedih dan tidaksukanya, dia jadi orang yang penuh kepura-puraan.

Ya, tiap orang beda-beda.

Ada loh orang yang mau bilang sedih aja mikir satu juta tahun – mikir kalo sedihnya itu gapenting, kayak: kalo aku sedih emang dia bakal peduli – yang kayak gini biasanya tipikal orang yang insecure. Ada juga orang yang kalau mau bilang tidak suka tiba-tiba gajadi karena takut – udah gitu takutnya udah kayak ngelebihin takut kalo ketemu dosen penguji – yang kayak gini biasanya tipikal orang yang people pleaser.

Aku sih mungkin termasuk tuh dua-duanya.

Kalau dipikir-pikir lebih jauh, pasti ada alasan kenapa ada//banyak orang yang ngga bisa seterbuka itu. Setuju atau engga, seringkali, kita dipengaruhin sama lingkungan sekitar. Nah, coba sekarang inget-inget dulu pas kecil sekitaran kita kayak gimana.. Kalau aku sendiri, katanya dulu kalau rewel//nangis sedikit langsung dimarahin sama yang jagain. Kalau marahan sedikit sama Kakak, Mama jadi langsung ngambek sama kami berdua.

Tapi mungkin yang hampir sama kayak kebanyakan orang lain, pas kecil kita keseringan dipacu untuk merasa rasa-rasa yang kata orang-orang positif AJA, e. g. bahagia, semangat, dkk. Padahal, manusia punya potensi untuk merasa berbagai macam rasa, termasuk sedih, kecewa, marah. Terus karena terbuai sama kata-kata orang, jadi ngerasa kalau manusia cuma berhak punya rasa yang positif (ini purely teori aku, sih..).

Padahal, pada dasarnya semua manusia sama, sama-sama punya beragam rasa, walaupun cara ngerasainnya bisa beda-beda. Jadi ya sebenernya ngga ada salahnya kalau kita mau bilang tentang kesedihan dan ketidaksukaan kita. Asal caranya baik.

Terus definisi baiknya orang beda-beda. Aku masih harus terus belajar kalau soal ini.

Mungkin salah satu cara yang bisa dipakai buat tau gimana cara ngungkapin apa yang kita rasa dengan impersonate (bahasanya anak ask.fm nih). Sesederhana sebelum bertindak, kita coba mikir dulu kalau kita jadi target tindakan kita, kita bakal ngerasa gimana. Action creates reaction.

Tapi ya kita juga ngga bisa tau pikiran orang sih, tapi seengganya udah coba berpikir. Kalau ternyata yang terjadi gasesuai sama ekspektasi yaudah, namanya juga manusia, cuma bisa usaha.

Iya, yang penting udah usaha.

Emangnya dia bisa tau kita berekspektasi apa dari dia? Kan engga. Jangan malah menyesal terus jadi gamau ngungkapin perasaan, terus malah ke depannya kalau ada apa-apa jadi dipendam. Nanti bisa-bisa kayak gunung berapi yang akhirnya meletus.

Jadi menurut aku sih jangan takut untuk mengungkapkan semua rasa – asal caranya baik, asal kita udah berusaha untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Karna ujung-ujungnya, hidup ya untuk saling memahami. Tapi ya untuk paham sedikit banyak butuh usaha, karna kita kan gabisa tahu pikiran orang lain gitu aja, kita kan bukan Tuhan yang Maha Mengetahui.

Pain from falling?

So, I can say that I like to think, including any-thing?

.

Well, it started when I told myself, “Don’t fall”

But then I found myself asked, “Should I fall?”

then myself asked, again, “What if when I fall I get hurt?”

and myself asked, again, once more, “What if when I fall I hurt someone?”

.

I suddenly thought about a kind of this question:

Bagaimana cara jatuh tanpa ada yang terluka?

.

Apparently, what I got so far

Srizzati said “Pain is just consequence of love”

and a friend said “Pain cannot be separated from love”

.

and Alain de Botton said, “Unexpectedly, love is a skill we need to learn”

 

So? I still don’t get it

me – masih harus belajar tapi gatau gimana

Life will break you. Nobody can protect you from that, and living alone won’t either, for solitude will also break you with its yearning. You have to love. You have to feel. It is the reason you are here on earth. You are here to risk your heart. You are here to be swallowed up. And when it happens that you are broken, or betrayed, or left, or hurt, or death brushes near, let yourself sit by an apple tree and listen to the apples falling all around you in heaps, wasting their sweetness. Tell yourself you tasted as many as you could

– Louise Erdrich, The Painted Drum