Adulting: About Portion

After some time of break I’m finally back with this topic, adulting.

Another thing I realize after going through this life up until now is: you need to realize that everything has its portion // sounds like everyone has his own role – but it’s a bit different.. In the previous, I may emphasize more about The Almighty’s power, that we are given chances and fate according to Him. Here, I will emphasize more about our own self.

Here, I will talk about portioning // budgeting // block-ing

Intinya sih kalau kita (harusnya) bisa membagi daya kita dalam menjalani hidup.

What do I mean by daya including time, money, energy, thoughts, even feeling.

 

Let’s start from time

Kenapa kalau pulang sekolah/bubaran sesuatu kita biasa baca Q. S. 103?

Semakin besar, semakin sadar kalau kerugian manusia yang sangat-sangat-sangat besar itu…. menyia-nyiakan waktu ūüė¶

We cannot return the time passed.. Make sure u utilize your time as it should be spent #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder999999999x

Jangan pernah punya niat untuk menunda sesuatu (kecuali kalau memang mau mengerjakannya di suatu waktu tertentu yang memang dialokasikan untuk hal itu dan ada hal yang lebih penting/bermanfaat untuk dikerjakan saat ini)

Lalu, kalau sudah memilih melakukan apa, harus bertanggung jawab untuk itu.. Kalau waktunya bekerja yasudah bekerja, kalau waktunya belajar yasudah belajar, kalau waktunya ibadah (bukan niat, tapi kegiatan), yasudah ibadah. Anw ini bukan masalah multi-tasking atau engga, tapi lebih kayak you have to give time its right..

Even, other people are expecting us to be aware about time. As being older, there are more people affected by how we spend our time – but I will talk more about this in Respect session (maybe).

 

To think about money…

Dulu mungkin mikirnya uang yang dipunya yaudah terserah mau diapain. My parents only remind me to be not so hedonic, to save some amount of money. I never knew about the importance of budgeting before.

Manusia adalah musuh untuk apa yang tidak diketahui. Fortunately, manusia dibekali akal, jadi cukup cerdas untuk mencari tahu, untuk belajar dari mana saja. Since this is a topic I don’t have enough experience, maybe you can watch on Youtube (I like The Financial Diet channel) or Instagram Account (Cerdik Mapan, Jouska, etc).

Intinya, harta itu titipan, ternyata apa-apanya ada porsinya, jadi harus dipikirkan bagaimana alokasi penggunaannya biar berkah sesuai ketentuan-Nya, untuk mendapat ridha-Nya.

 

Then, energy…

This point intinya sih activity that takes your energy (either physically or psychically)

Some days/week ago, one friend said, “Ya sudah cukup lah kuliah 8 semester seengganya untuk ngejalanin hidup. Mau nyari apalagi sih?” (Sebenernya agak lupa sih kata-katanya gimana, tapi kurang lebih kayak gitu)..

That question hit me soo deep, which apparently make me a bit sad Рsince I spent extra 2 semesters. Anyway that sad truth might be what I need, indeed.

Ya, jadi kita hidup engga cuma untuk jadi seorang ‘student’. We’ve been in school since 4 to 22, it holds big portion in our life. That big until maybe we forget we still have to survive after(grads)wards.

Semakin besar, semakin sadar kalau ada hal-hal lain yang harus diberikan haknya dengan alokasi energi kita di sana.

Simplest thing? Tubuh kita.

“Tubuhmu punya hak atas dirimu…”

Tapi, gimana caranya memenuhi hak kalau belum tahu haknya apa saja? Kalau sudah tahu pun, harus tahu juga gimana cara memenuhi hak-hak itu sesuai ketentuan-Nya.

Through this adulting, I come to know that there are zillion things I need to learn Рbut the learning itself is not only within this phase, it is continual, never ending, until the time I meet My Creator.

Thinking it’s too late? It’s never too late to learn kok, kan kata-Nya juga jangan berputus asa dari rahmat-Nya… Honestly,¬†I even still try to cope with this thought sih. However constraints are inevitable, pasti ada. Makanya, priority topic can’t be separated from adulting (maybe I’ll talk about that on the next (?) post)

 

Let’s talk about thoughts…

Manusia diperintahkan untuk berpikir, untuk mengetahui yang mana yang baik, yang buruk, yang benar, yang salah, yang boleh, yang tidak boleh. Berpikir untuk membantu diri ini dalam menjalani hidup sesuai cara-Nya.

Bukan untuk menyulitkan…

Jadi, sebenarnya engga perlu kebanyakan mikir sampai lupa melakukan apa yang seharusnya dilakukan (sooooooo me………)

How to reduce giving too much portion on unnecessary thinking? When start feeling trapped in unconscious thinking – it might take about 2 minutes before you could realize, count 1-2-3 and move your body, blink, walk, stretch; express your self, start doing something, create something. Don’t get trapped. Too much thinking might inhibit you from having outcomes.

 

And about feelings…

Namanya juga wanita, apa-apanya bisa dihubungin sama perasaan.

Manusia boleh banget punya banyak perasaan. Semakin besar, semakin sadar kalau tidak boleh egois sama perasaan diri sendiri. Jadi kalau mau sedih, sedihnya sedikit aja (sekalian curhat). Engga perlu kebanyakan, karena ada perasaan-perasaan lain yang berhak dirasakan juga he he he he he he he he :”)

 

Maybe there are more?

Tapi mari cukupkan sampai sini dulu – post ini masih mungkin diubah sesuai keluangan dan keinginan –

To wrap up: everything has its portion. Tanggung jawab kita memberikan mereka (things in lyf) haknya sesuai porsinya. Tolong bantu dengan doa ya, semoga kita sama-sama bisa menjadi orang-orang yang ‘adil’ dalam per-porsi-an ini, yang tidak melampaui batas, yang tidak menyalahi ketentuan-Nya!

 

XOXO,

Ayu Fatmawati

Advertisements

Wondering

.

.

.

.

is there anybody (excluding my family) out there happy because I am happy,

 

is there?

 

Undefined

Kalau bukan tentang boleh tidak boleh

Biasanya tentang yang tersampaikan dan yang tersimpan

Selalu ada yang belum selesai

Sabar dulu, nanti Allah pasti akan membukakan jalan kan?

Tidak tahu dengan siapa, tidak tahu waktunya kapan..

 

Mom said…

Akhirnya ketemu waktu untuk ngobrol cukup banyak sama Mama, tentang cukup banyak hal..

Salah satu inti dari cerita kemarin menurut Mama, kesiapan seorang wanita itu dilihat dari kemandiriannya, keseriusan pria beriman dilihat dari kecukupannya.

Sekarang, aku cukup jadi pendengar yang baik dulu.

Engga tau kalau nanti (?) – tapi harus tetap jadi anak yang berbakti sama Mama

 

Melatih Sabar

Catatan untuk diri sendiri kalau puasa saja tidak cukup untuk melatih sabar.

Ada beberapa hal yang aku rasa bisa membantuku melatih kesabaran:

  • makan dan minum sambil duduk, pada waktunya
  • tidak menuruti BM (kebanyak mauan – kalau bahasa now)
  • think 1000x before deciding to buy something
  • don’t get too attempted to open new chats

Gitu dulu kayaknya, namanya juga baru belajar

P. S. : di atas sabar, masih ada ridha dan taqwa yang jauh22222 lebih tidak mudah